Berita

Tradisi Indonesia: Lebaran Anak Yatim di Hari Asyura, Ini Penjelasannya

Tradisi Indonesia: Lebaran Anak Yatim di Hari Asyura, Ini Penjelasannya

Di Indonesia, Hari Asyura sering kali disebut juga sebagai lebaran anak yatim. Apa yang menyebabkan hal ini dan apa alasan di baliknya?

Lebaran Anak Yatim di Indonesia biasanya dihubungkan dengan sejarah Hari Asyura, meskipun hal ini masih menjadi perdebatan. Perayaan anak yatim ini umumnya dirayakan pada tanggal 10 Muharram. Ada yang menentang dan ada pula yang terus melestarikannya.

“Di Indonesia, memang banyak budaya seperti ini. Hampir setiap masjid dan majelis taklim mengadakan perayaan tahun baru Islam, disertai dengan pemberian santunan kepada anak yatim karena bulan Muharram, khususnya tanggal 10, adalah hari lebaran bagi anak yatim,” tulis Ustaz Ahmad Zarkasih Lc dalam bukunya “Sejarah Kalender Hijriyah”.

Tradisi menyantuni anak yatim dan mengusap kepalanya ini, menurut Ustaz Ahmad Zarkasih, muncul karena banyaknya hadis yang menyebutkan keutamaan menyantuni anak yatim di tanggal 10 Muharram.

Oleh sebab itu, tanggal 10 Muharram seolah menjadi hari dan bulan bagi anak yatim. Banyak orang menyebutnya lebaran karena lebaran identik dengan hari penuh kebahagiaan.

Begitu juga pada tanggal ini, anak yatim merasa senang karena banyak yang memberikan perhatian. Salah satu hadis menyebutkan, “Siapa yang mengusap kepala anak yatim (menyantuni/menyayangi) pada hari Asyura (10 Muharram), maka Allah akan meninggikan derajatnya sebanyak rambut anak yatim yang diusap oleh tangannya” (Hadis ke 212 dari kitab Tanbih al-Ghafilin).

Dalam redaksi lain dijelaskan, “Barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim dengan tangannya pada hari ‘Asyura, maka Allah akan mengangkat derajatnya dengan setiap rambut yang diusap.” (Riwayat Al-Samarqandi).