Ekonomi

UMKM Memerlukan Program Menyeluruh dan Terpadu, Bukan Sekedar Penjualan Daring

UMKM Memerlukan Program Menyeluruh dan Terpadu, Bukan Sekedar Penjualan Daring

JAKARTA – Program UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) yang menyeluruh dan terintegrasi dapat mempercepat pencapaian target ekonomi digital di Indonesia. Sebuah penelitian terkini oleh DFS Lab dan Somia CX tentang program pendampingan onboarding platform penjualan digital menemukan bahwa meskipun banyak inisiatif telah dilakukan, sebagian besar program tersebut masih terfokus pada peningkatan keterampilan digital semata.

Akibatnya, masih ada tantangan besar dalam memperkuat kemampuan bisnis dasar yang belum tersentuh. Sementara itu, penjualan daring hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan proses bisnis yang berkelanjutan. Pelaku UMKM memerlukan dukungan yang lebih luas dan berkelanjutan untuk terus berkembang dan menjangkau pasar baru.

Dalam upaya mendukung pertumbuhan UMKM, pemerintah juga berencana mengkonsolidasikan berbagai program pemberdayaan UMKM ke dalam platform SAPA UMKM. Ini dapat membuka peluang untuk mengintegrasikan dan menyelaraskan program-program tersebut dalam kerangka yang lebih komprehensif.

Pendekatan terpadu ini dapat mencakup penguatan keterampilan bisnis penting yang sesuai dengan UMKM di berbagai tahap perkembangan serta berbagai sektor dan segmen. Upaya ini penting dilakukan mengingat proyeksi ekonomi digital nasional, yang diperkirakan akan mencapai Rp2.100 triliun pada tahun 2025, dan terus tumbuh menjadi Rp5.953 triliun pada tahun 2030.

Sektor ini juga akan berkontribusi sebesar 11% terhadap PDB nasional, dengan target ambisius mencapai 20% pada tahun 2045. Terlebih lagi, visi Asta Cita milik Presiden Prabowo Subianto menempatkan transformasi digital dan pemberdayaan UMKM sebagai pilar utama strategi pencapaian pertumbuhan ekonomi 8% pada tahun 2029.

Untuk mendukung visi ini, pemerintah terus berkolaborasi dengan sektor swasta, organisasi madani, dan pendidikan tinggi untuk mendigitalkan 30 juta pelaku UMKM tahun ini. Namun, banyak dari mereka masih kesulitan dalam mempertahankan kehadiran digital dan berkembang. Ini menunjukkan masih adanya keterbatasan dalam program pemberdayaan yang ada saat ini.

Melalui pemetaan dan analisis terhadap program yang ada, studi ini menemukan berbagai format, mulai dari lokakarya tematik hingga program inkubasi dan pembinaan. Namun, ekosistemnya masih terfragmentasi.

Sebagian besar inisiatif ini masih bersifat jangka pendek dan berfokus pada hal-hal terbatas, sering kali hanya mencakup keterampilan digital dasar dan penggunaan platform digital. Tantangan lain yang muncul adalah masih banyak pelaku UMKM yang kesulitan mengembangkan usaha mereka, meskipun sudah menerima pelatihan atau bergabung ke platform digital.