Berita

Mengapa Haji Dianggap Sebagai Panggilan dari Allah SWT?

Mengapa Haji Dianggap Sebagai Panggilan dari Allah SWT?

Ibadah haji adalah rukun Islam terakhir yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam yang mampu dan menerima panggilan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Apa yang membuatnya disebut sebagai panggilan Allah? Panggilan haji lebih istimewa dibanding panggilan untuk ibadah lain seperti jihad dan lainnya.

Menurut KH Sujadi, seorang mustasyar dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pringsewu, Lampung, panggilan haji memiliki keistimewaan karena disebutkan dalam Al-Qur’an, tepatnya di surat Al-Imran ayat 96.

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Inna awwala Baitinw wudi’a linnaasi lallazii bi Bakkata mubaarakanw wa hudal lil ‘aalamiin

Artinya: ‘Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam’ (QS Ali Imran: 96)

‘Ayat ini menyebut, ..Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana,’ jelas KH Sujadi.

Dalam ayat tersebut, perintah haji diawali dengan kata walillah (Allah), menandakan bahwa panggilan haji amat istimewa karena langsung menyebut asma Allah. Oleh karena itu, siapa pun yang menjalankan ibadah haji harus menata niat dengan baik, lillahi ta’ala (hanya karena Allah).

‘Jangan sampai salah niat. Niatkan hanya untuk beribadah kepada Allah swt. Niat ini yang paling sulit untuk ditanamkan dan diamalkan. Kalau daftar mudah, bisa siapa saja dengan berbagai cara,’ tambahnya.

KH Sujadi juga menekankan pentingnya menjaga niat berhaji agar tidak kabur dengan aktivitas lain, seperti niat haji untuk rekreasi atau berselfie yang menjadi tren saat ini. ‘Jika ingin berselfie di Kakbah, lakukanlah ‘selfie’ kepada Allah swt yang memiliki Ka’bah dengan banyak beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya,’ ajak Abah Sujadi.

Penghambaan dan Ketundukan Diri di Hadapan Rabb Azza Wa Jalla

Haji merupakan bentuk ketaatan yang agung dan ibadah yang mulia. Di dalamnya terdapat penghambaan dan ketundukan sempurna di hadapan Rabb Azza wa Jalla. Haji membawa manusia keluar dari gemerlap dunia menuju Rabb-nya, meninggalkan harta dan keluarga, serta mengenakan dua helai pakaian ihram, tanpa penutup kepala, merendahkan diri kepada Rabb-nya, meninggalkan wewangian dan istri, serta melakukan banyak amalan sunnah dengan hati khusyuk, mata berlinang air mata, dan lisan yang berzikir, mengharap rahmat dari Rabb-nya, takut akan adzab-Nya.

Syiar dari semua yang disebutkan di atas adalah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ

Labbaik Allahumma labbaik

Artinya, sesungguhnya aku tunduk kepada-Mu wahai Rabb, aku memenuhi panggilan-Mu, mentaati hukum-Mu dan melaksanakan perintah-Mu.

Talbiyah adalah syi’ar haji. Seorang muslim memulai amalan haji dengan talbiyah dan berjalan menuju Makkah dengan bertalbiyah hingga tiba di Baitullah kemudian segera melaksanakan thawaf. Setelah itu ia bertalbiyah setiap kali berpindah dari satu rukun ke rukun yang lain dan dari satu manasik ke manasik yang lain. Jika ia berjalan menuju Arafah maka ia bertalbiyah, begitu juga jika ia menuju Muzdalifah dan Mina sampai melempar jumrah aqabah baru ia memutus talbiyah. Talbiyah adalah syi’ar haji dan yang disunnahkan dalam amalan-amalan manasik.

Betapa besar pengaruh dari ibadah haji yang penuh keberkahan bagi kaum muslimin terhadap pensucian dan perbaikan jiwa, dan sebagai obat kekurangannya dalam menjalankan perintah dan melaksanakan hak-hak Allah. Wallahu A’lam