Apakah Beramal dengan Motivasi Duniawi Diperbolehkan?
Apakah Beramal dengan Motivasi Duniawi Diperbolehkan?
Setiap amal perbuatan yang kita lakukan dengan niat tulus untuk Allah, maka amal tersebut bernilai untuk Allah. Sedangkan, jika dilakukan dengan tujuan duniawi, maka hasilnya juga untuk dunia. Apakah benar demikian?
Dalam kitab ‘Kaifa Tahtasibiina al-Ajr Fii Hayaatiki al-Yaumiyyah’ karya Hana binti Abdul Aziz Ash-Shanii, dijelaskan bahwa setiap tindakan selalu disertai niat. Jika niat kita murni untuk Allah dan kehidupan akhirat dalam menjalankan perbuatan yang sesuai syariat, maka kita akan mendapatkan apa yang diharapkan. Sebaliknya, jika kita berbuat hanya untuk dunia, hasilnya bisa jadi tercapai, namun bisa juga tidak.
Allah Ta’ala berfirman,
Barangsiapa menghendaki kehidupan duniawi, maka Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. (QS. al-Isra: 18)
Dalam ayat ini, Allah tidak berfirman, “Maka kami segerakan baginya apa yang ia inginkan,” tetapi, “Maka Kami segerakan baginya apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki,” bukan kepada semua orang.
Berdasarkan ayat tersebut, sebagian orang dapat memperoleh apa yang mereka inginkan di dunia, sebagian hanya mendapatkan sebagiannya, dan sebagian tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan sama sekali di dunia ini.
Sedangkan firman Allah,
Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (QS. Al-Isra: 19)
Ayat ini menunjukkan bahwa kita harus berusaha dengan tekun untuk mendapatkan pahala dari Allah. Penting juga untuk mengetahui bahwa niat baik tidak akan disia-siakan oleh Allah, meskipun kita tidak sempat melakukan amal saleh yang diniatkan.
Jika seseorang berniat melakukan amal saleh tetapi terhalang dan tidak bisa melakukannya, dia tetap akan mendapatkan pahala berdasarkan niatnya. Sedangkan jika dia melakukan amal saleh ketika tidak ada halangan, lalu kemudian ada uzur sehingga tidak bisa melanjutkan, pahala dari amal tersebut tetap sempurna. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Jika seorang hamba sakit atau bepergian, maka dia akan diberi pahala amal seperti amal ketika dia tidak bepergian atau sehat. (HR. Bukhari)
Ini adalah karunia dan rahmat Allah kepada hamba-Nya, di mana orang yang berniat untuk melakukan kebaikan, tetapi sibuk dengan hal yang lebih baik dari amal tersebut, tetap akan dibalas dengan pahala. Wallahu A’lam.
