Berita

Pandangan Islam tentang Memilih Pertemanan, Berikut Penjelasannya

Hukum Memilih Pertemanan dalam Islam

Bolehkah kita memilih atau memilah pertemanan? Apa hukumnya menurut pandangan Islam? Dalam perspektif Islam, teman ibarat cermin. Jika kita ingin memahami diri sendiri, perhatikanlah dengan siapa kita berteman.

Apabila teman kita gemar berpesta dan jauh dari ajaran agama, besar kemungkinan kita pun akan terpengaruh. Namun, jika teman kita rajin menuntut ilmu agama dan aktif dalam kajian Islam, maka Insya Allah, kita juga akan lebih dekat dengan agama.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Seorang mukmin adalah cerminan dari saudaranya yang mukmin.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, Abu Dawud dalam Ash-Shahihah)

Sangat penting untuk berhati-hati. Memilih teman yang saleh adalah kewajiban. Bersikap selektif dalam memilih teman adalah prinsip utama dalam Islam. Sejarah menunjukkan bahwa para ulama terdahulu sangat memperhatikan prinsip ini, karena teman sangat mempengaruhi kehidupan seseorang baik di dunia maupun di akhirat.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam juga bersabda, “Seseorang itu berada pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapakah yang dia jadikan teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad)

Kisah Alqamah

Dalam Shahih Al-Bukhari, terdapat kisah Alqamah rahimahullah, seorang tabi’in yang mulia. Ketika ia tiba di Negeri Syam, ia langsung menuju masjid dan melaksanakan salat dua rakaat. Kemudian, ia berdoa, “Ya Allah, berilah aku kemudahan untuk mendapatkan teman yang baik di negeri ini.”

Setelah berdoa, ia bergabung dengan sekelompok orang yang sedang duduk. Seorang syaikh kemudian datang dan duduk di sebelahnya, bertanya kepada mereka, “Siapakah orang ini?” Mereka menjawab, “Beliau adalah Abu Darda’ (seorang sahabat Nabi).”

Tabi’in tersebut berkata kepada Abu Darda’, “Aku telah berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar diberi kemudahan untuk mendapatkan teman yang baik. Sungguh Allah telah memudahkanku bertemu denganmu.” Abu Darda’ bertanya, “Dari manakah engkau?” Ia menjawab, “Aku dari negeri Kufah.”

Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc, mengutip pernyataan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, yang mengatakan, “Memperhatikan atau memilih teman adalah kewajiban setiap muslim. Jika mereka orang-orang yang buruk, jauhilah, karena pengaruh buruk mereka lebih cepat menular daripada kusta. Namun, jika mereka teman yang baik, yang selalu mengajak kepada kebaikan dan menjauhkan dari kemungkaran, maka bergaullah dengan mereka.”

Pernyataan Syaikh Utsaimin menegaskan bahwa umat Islam harus selektif dalam memilih teman sejak dini, karena pergaulan di masa muda sangat menentukan kelanjutan hidup di masa depan.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Jika engkau melihat seorang pemuda di awal pertumbuhannya bersama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka harapkanlah kebaikannya di kemudian hari. Jika engkau melihatnya bersama ahlul bid’ah, maka kecewalah akan kebaikannya di kemudian hari.” [Kitab Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Al-Imam Ibnu Muflih]

Begitu pula yang dikatakan Al-Imam Amr bin Qais Al-Mula’i rahimahullah, dengan sedikit tambahan, “Karena perjalanan seorang pemuda sangat ditentukan oleh masa awal pertumbuhannya.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah rahimahullah)

Baca juga: 10 Tipe Pertemanan menurut Al-Qur’an, Kamu Punya yang Mana?