Sejarah

Kertanagara, Raja Singasari yang Berkuasa di Daha dan Tewas Diserang Kediri

Kertanagara, Raja Singasari yang Berkuasa di Daha dan Tewas Diserang Kediri

Malang dan Kediri mempunyai hubungan erat dalam sejarah dua kerajaan besar di Jawa. Kerajaan Kediri dan Singasari, terhubung erat karena kedua wilayah ini pernah terlibat pertempuran untuk kedaulatan wilayah.

Pada masa Kerajaan Singasari, yang dahulu dikenal sebagai Tumapel, beberapa rajanya pernah memerintah di Daha, yang saat itu merupakan wilayah bawahan setelah Kediri ditundukkan oleh Ken Arok.

Pertumpahan darah dan kudeta kekuasaan sempat membuat Singasari tidak stabil. Namun, di bawah pemerintahan Wisnuwardhana, dapat disatukan kembali. Penyatuan ini tercatat dalam Prasasti Mula-Malurung, juga dalam dua Kakawin, Nagarakretagama dan Pararaton.

Wisnuwardhana berdasarkan Prasasti Mula-Malurung masih memegang kekuasaan di Tumapel dan menunjuk Kertanagara sebagai raja bawahan di Daha, Kediri. Wisnuwardhana masih memiliki kekuasaan mutlak di Tumapel, dengan ibu kota Kutaraja yang kemudian dikenal sebagai Singasari.

Wilayah kekuasaan Wisnuwardhana meliputi Janggala dan Panjalu, sebagaimana dikutip dari karya sejarawan Prof. Slamet Muljana, “Tafsir Sejarah Nagarakretagama”.

Kertanagara adalah putra Wisnuwardhana dari pernikahannya dengan permaisuri Waning Hyun, menjadikan Kertanagara sebagai raja mahkota yang memimpin raja-raja bawahan lainnya.

Selaku raja bawahan yang memimpin Daha, Kertanagara berwenang mengeluarkan prasasti di wilayahnya. Hal ini terbukti dengan adanya Prasasti Pakis Wetan tertanggal 8 Februari 1267, dan Prasasti Penampihan tertanggal 13 Oktober 1269, yang keduanya dikeluarkan oleh Raja Kertanagara ketika Raja Wisnuwardhana masih hidup.

Setelah Raja Wisnuwardhana wafat pada 1270, Kertanagara naik menjadi raja agung memimpin Singasari dan Kediri seperti pendahulunya. Pada awal pemerintahannya, ia dibantu oleh seorang mahamenteri senior bernama Mpu Raganata, sebagaimana tertulis dalam Kidung Panji Wijayakrama Pupuh 1.

Mpu Raganata dikenal bijak, jujur, dan berani. Dengan lantang, ia menyampaikan keberatan-keberatannya terhadap sikap dan kepemimpinan sang raja. Hubungan antara Mpu Raganata dan Prabu Kertanagara disamakan dengan hubungan Patih Sri Laksmikirana dan Prabu Sri Cayapurusa dalam cerita Singhalanggala.

Pada masa pemerintahan Kertanagara pula, Singasari runtuh akibat serangan Jayakatwang. Konon, Jayakatwang yang masih keluarga Kertanagara, menguasai Daha, wilayah yang saat itu menjadi bawahan Kerajaan Singasari.