Berita

Menteri Pertahanan Pakistan: Jihad dan Pengaruh Barat

ISLAMABAD – Menteri Pertahanan Pakistan Berbicara tentang Jihad dan Barat

Khawaja Asif, Menteri Pertahanan Pakistan, menyatakan bahwa negaranya telah menjadi korban terorisme akibat kebijakan Barat, khususnya Amerika Serikat, yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Dalam wawancara dengan RT pada hari Sabtu, Asif mengkritik keputusan pemerintah terdahulu untuk ikut serta dalam perang Soviet-Afghanistan pada akhir 1980-an. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai kesalahan karena telah menjadikan Pakistan sebagai tempat pelatihan dan indoktrinasi para jihadis demi kepentingan Barat.

Menteri Asif menyoroti bahwa Pakistan berfungsi sebagai ‘batu loncatan’ dalam perang Soviet-Afghanistan. Ia menjelaskan bahwa jihad yang diperkenalkan oleh Barat mengubah pandangan sosial negara dan menimbulkan berbagai masalah yang dihadapinya saat ini. Transformasi etos masyarakat untuk mendukung jihad, menurutnya, berdampak besar.

Dia menambahkan bahwa selama perang di Afghanistan, Pakistan memberikan berbagai dukungan kepada AS. Setelah serangan 9/11, Pakistan kembali bergabung dengan koalisi, menyediakan segala fasilitas dari tanah mereka. Meski begitu, Asif menegaskan bahwa kedua perang ini bukanlah pertempuran mereka.

Asif menekankan bahwa Pakistan menanggung dampak dari kebijakan masa lalu. Menurutnya, setelah tahun 1989 atau 1990, Amerika Serikat meninggalkan Pakistan dalam keadaan terpuruk. Situasi keamanan semakin memburuk setelah penarikan pasukan AS dari Afghanistan pada tahun 2021.

Lebih lanjut, Asif menunjukkan bahwa komunitas Pashtun terbagi antara Pakistan dan Afghanistan, dengan jumlah besar tinggal di Pakistan, menjadi sumber kekhawatiran. Ia juga menyoroti keberadaan hampir 6 juta warga Afghanistan tanpa dokumen di Pakistan, menyebut tidak ada yang bertanggung jawab atas kondisi tersebut.

Asif menjawab pertanyaan mengenai apakah Islamabad pernah mendukung kelompok teroris atas nama AS dan Inggris, hal yang ia akui sehari sebelumnya dalam wawancara dengan Sky News.

Minggu ini, India menuduh Pakistan terkait serangan teroris di Kashmir selatan yang menewaskan 26 warga sipil, semua turis dari berbagai bagian India. Pakistan membantah tuduhan itu.

Asif menegaskan bahwa Pakistan adalah target utama terorisme di kawasan tersebut dan menolak tuduhan India yang menyalahkan mereka untuk sesuatu yang tidak terkait.

New Delhi secara konsisten menuduh Pakistan mendukung dan membiayai kelompok teroris di kawasan tersebut, serta di perbatasan. Setelah serangan minggu ini, India mengusir diplomat Pakistan, mencabut visa warga Pakistan, dan menutup perbatasan daratnya. India juga menangguhkan Perjanjian Perairan Indus 1960.

Pakistan merespons dengan tindakan balasan, termasuk peringatan bahwa setiap upaya New Delhi untuk memblokir atau mengalihkan jalur sungai akan dianggap sebagai ‘tindakan perang’.