Ekonomi

Setelah Damai AS-China, Siapa yang Menjadi Sasaran Tarif Selanjutnya?

Setelah Damai AS-China, Siapa yang Menjadi Sasaran Tarif Selanjutnya?

JAKARTA – Amerika Serikat dan China telah menyepakati jeda perang tarif selama 90 hari, memberikan secercah harapan bagi kestabilan ekonomi dunia. Meski demikian, di balik perjanjian antara dua kekuatan ekonomi terbesar ini hadir pertanyaan mengenai siapa yang akan menjadi sasaran kebijakan tarif AS berikutnya.

Perjanjian jeda tarif ini tercapai setelah AS menerapkan tarif global sebesar 10% untuk seluruh negara pada awal April. Kebijakan tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya perang dagang, terutama di kalangan negara-negara anggota BRICS yang meliputi Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.

China, sebagai anggota kunci BRICS, memegang peran signifikan dalam negosiasi ini. Belum lama ini, blok BRICS sepakat untuk tetap bersatu menghadapi kenaikan bea impor dari AS. Namun, meskipun ada perjanjian jeda tarif antara AS dan China, ketegangan belum sepenuhnya berakhir, sebab negara BRICS lainnya masih menghadapi tarif impor dari AS.

Menurut laporan dari Watcher Guru, India dan AS telah menetapkan kerangka acuan untuk perjanjian perdagangan baru, sementara Brasil dan Afrika Selatan masih dikenakan tarif 10 persen. Rusia menjadi satu-satunya anggota BRICS yang dikecualikan dari rencana tarif awal AS, memberikan negara tersebut posisi tawar yang kuat.

Di sisi lain, Uni Eropa diprediksi akan menjadi pihak berikutnya dalam negosiasi dagang AS. Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan bahwa Uni Eropa lebih keras dalam taktik negosiasi dibandingkan China. Hal ini menunjukkan bahwa potensi eskalasi perang tarif masih mengancam negara-negara besar lainnya.

Meski demikian, kekompakan yang ditunjukkan oleh BRICS membuat banyak pengamat yakin bahwa kesepakatan keringanan tarif hanya masalah waktu. Apalagi, blok ini tengah mempertimbangkan untuk memperluas keanggotaan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) 2025 mendatang.

Optimisme tetap terjaga di tengah ketegangan perdagangan global, terutama dengan adanya jeda tarif antara AS dan China. Namun, negara-negara lain kini harus bersiap menghadapi kemungkinan menjadi target kebijakan tarif berikutnya dari AS.