Ekonomi

Rencana Menggantikan Dolar AS: India Enggan Tinggalkan BRICS?

Rencana Menggantikan Dolar AS: India Enggan Tinggalkan BRICS?

JAKARTA – Negara-negara dalam aliansi BRICS masih terbelah terkait usulan untuk menggantikan dolar AS (USD). India, salah satu anggota aliansi, menegaskan bahwa mereka tidak berminat untuk beralih dari dolar. Kelompok ekonomi negara berkembang ini belum mencapai konsensus mengenai usulan mengakhiri ketergantungan pada mata uang tersebut.

India tidak menunjukkan ketertarikan untuk melemahkan peran dolar AS, dan anggota lain dari BRICS, yang terdiri dari ekonomi berkembang, juga belum menyepakati sistem pembayaran alternatif. Ini diungkapkan oleh menteri luar negeri India sehubungan dengan inisiatif dedolarisasi.

Subrahmanyam Jaishankar menggambarkan dolar sebagai ‘pilar stabilitas ekonomi global’. Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump, sempat mengancam upaya BRICS (yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) dalam membangun sistem pembayaran yang menyaingi dominasi dolar.

Baca Juga: Dua Pentolan BRICS Sepakat Dukung Perdagangan Bebas di Tengah Tarif Trump

Jaishankar menegaskan bahwa India tidak memiliki masalah dengan dominasi dolar dan tidak berencana untuk menggantinya sebagai mata uang utama dunia. Dia juga memuji hubungan India dengan AS dan menyatakan optimisme terhadap hubungan yang semakin membaik dengan China.

China telah mendorong penggunaan yuan sebagai alternatif untuk dolar sejak krisis keuangan 2008, melalui penandatanganan sejumlah perjanjian swap mata uang dengan mitra dagangnya. Penggunaan yuan dalam perdagangan global memang meningkat, tetapi masih tertinggal jauh dibandingkan dominasi dolar. Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa negara BRICS merasa semakin perlu mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, telah lama mengajak negara-negara BRICS untuk mencari alternatif selain dolar AS. Sementara itu, Rusia, yang terkena sanksi sejak invasi ke Ukraina, mendesak pembentukan platform pembayaran berbasis mata uang BRICS.

Pada pertemuan tahunan blok tersebut di bulan Oktober, Presiden Xi Jinping menyerukan reformasi mendesak terhadap arsitektur keuangan internasional yang dipimpin oleh negara-negara BRICS.

Para analis menilai bahwa ketidakpercayaan dan perbedaan pendapat di antara anggota utama BRICS, seperti India dan China, menjadi kendala besar dalam memajukan ide mata uang bersama.